Mari Mencermati Hakikat Diri Darimana Kita Berasal

Kamis, 06 Juni 2013



Bismillahir Rohmanir Rohiim
Assalamu’Alaykum Warohmatullahi Wabarakatuh

Saudaraku,

Alam semesta ini, isinya adalah materi dan energi. Pengamatan terakhir para ilmuwan bertambah satu, yakni informasi. Terwujudnya suatu benda disebabkan oleh karena adanya energi (tenaga atau daya). Tanpa energi mustahil ada materi, oleh karena itu energi lebih awal ada sebelum materi, sebab energi merupakann “roh” materi. Dalam setiap materi terkandung informasi. Informasi bukan materi meskipun tercetak pada materi. Informasi adalah hasil dari intelligence – kecerdasan.

Kecerdasan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk bumi lainnya. Kecerdasan ini jugalah yang mengantarkan kesejahteraan menemukan kebahagian dan keselamatan. Namun perlu disadari untuk menemukan kebahagian itu manusia harus mengenal dirinya secara akrab. Tak kenal akan diri sendiri bisa membuat ketidaktahuan akan tugas dan fungsi yang esensial di bumi ini. Kabut gelap yang selama ini menutupi sosok jasmani dan rohani, akan bersinar terang tatkala jalan Shirathal Mustaqim kita tempuh melalui pencermatan akan hakikat diri.

Pertanyaan yang selalu menghadang manusia mengenai hakikat dirinya adalah darimana, mau kemana, apa maksud tujuan hidup, lalu mau kemana?

Tak kenal maka tak sayang. Mari.,cermati hakikat diri ini, agar kita bisa mengagumi kebesaran Illahi, mensyukuri nikmat dan karunia-Nya, serta memilih ajaran-Nya sebagai resep untuk menyelamatkan diri.

Sebelum kita telaah satu persatu, mari kita mulai dari titik mana kehidupan ini berawal.

Awalnya dunia ini (langit dan bumi) adalah satu, dan seluruh kehidupan ini berasal dari air (H2O beserta zat-zat mineral yang dikandungnya), seperti dalam Al-Anbiyaa’ – QS 21:30: “Awalam yarolladziyna kafaruww annaas samaawaati wal’ardha kaanataa rotkoon fafataqnaahumaa waja’ alnaa minal maa ikulla syai’injahiin, afalaa yu’minuwn” artinya:

“Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa langit-langit dan bumi disatukan kemudian mereka Kami pisahkan dan Kami menjadikan setiap yang hidup dengan air. Lalu apakah mereka tidak beriman?”

Data modern menyebutkan bahwa makhluk yang paling tua adalah tumbuh-tumbuhan, yaitu ganggang yang ditemukan sejak periode pra-Cambira, yaitu saat dikenali daratan yang paling tua. Dunia hewan muncul kemudian yang berasal dari laut. Al-Qur’an menyatakan bahwa unsur terpenting bagi seluruh kehidupan tumbuh-tumbuhan, seperti dalam Thaahaa – QS. 20:53: “…wa’andzala minassamaaishoo aan. Fa’akhroj’naa biha adzwajaam minnabaa tin syata” artinya:

“Dan Allah menurunkan air dari langit. Maka kami tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasang tumbuhan yang berbeda-beda.”

Kemudian Allah berfirman dalam An-Nur – QS. 24 : 45 “Wallahu kholaqo kulla daaabbatim mimma” artinya:

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air.”

Selanjutnya Allah menjadikan manusia melalui tujuh macam tingkatan:

Yang pertama
Disuratkan dalam As Sajadah – QS. 32 : 7
“Waba alkholqo minthiyn”
artinya:
“Dan Allah menjadikan manusia pada asalnya dari tanah”
Kata “thin” (tanah) pada ayat tersebut bermakna atom zat air atau Hidogenium.

Yang kedua
Disebutkan dalam Ar-Rahmaan – QS. 55 : 14:
“Kholaqol insaana min sholsholin kal fakhkhoor”
artinya:
“Allah menjadikan manusia dari tanah yang kering seperti tanah tembikir yang dibakar”
Kata “sholshol” (tanah kering atau setengah kering) pada ayat diatas adalah zat pembakar atau Oxygenium.

Yang ketiga
Disebutkan dengan kata “Fakhkhoor” pada ayat diatas adalah zat arang atau Carbonium.

Yang keempat
Disebutkan dalam Al-Hijir – QS. 15 : 28
“Waidza Qolarobbuka lilmalaaa ikati inni kholiqun basyaron min sholsholin min hamaa’ in masnuwm”
artinya
“Dan hendaklah engkau ketahui ketika Allah berfirman kepada malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia dari tanah dan Lumpur hitam yang berbentuk.”
Kata “Hamaa’in” (lumpur hitam) diartikan zat lemes atau Nitrogenium.

Yang kelima
Disebutkan dalam As shaffaat – QS. 37 : 11
“Innakholaknaahum mintiynin laadzib”
artinya:
“Sesungguhnya Allah menjadikan mereka (manusia) dari tanah liat”
Kata “laadzib” (tanah liat) adalah tanah yang sudah sempurna, yang telah diaduk, terdiri dari kandungan zat besi (Ferum), Yodium, Silicum dan Morgaan yang menjadi jaringan jasmani.

Yang keenam
Disebutkan dalam Ali Imran – QS. 3 : 59
“Adama kholaqohuu minturoob”
artinya:
Dia (Allah) menjadikan Adam dari tanah”
Kata “turoob” (tanah) adalah unsur-unsur atau zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamakan zat anorganis.

Zat ini baru terjadi setelah berlangsungnya persenyawaan antara zat air yang disebut “thin”, zat arang yang disebut “Fakhkhor” dengan zat pembakar “Sholshol”, zat lemes atau “Hamaa’in” , kemudian bersenyawa dengan zat besi, yodium kalium sillicium dan morgaan yang disebut “Laadzib”.

Dengan berlangsunganya proses tersebut maka terbentuklah suatu zat yang dinamakan “protein”. Inilah yang disebut “turoob” atau zat anorganis.
Diantara zat-zat anorganis yang dipandang penting adalah zat Kalium yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, utamanya pada zat otot. Zat ini memilik aktivitas dalam proses hayati yakni dalam pembentukan badan halus atau roh.

Dengan berlangsungnya “protenisasi” kemudian mengalami penggantian substansi, lalu lantaran elektron sinar kosmis yang menjelmakan pembentukan atau formasi “ujud” dinamakan “cause formalis”. Oleh karena sinar kosmis dapat merubah sifat zat yang berasal dari tanah maka terbentuklah badan kasar (jasmani) – berbentuk
manusia (adam), akan tetapi belum ada rohnya.

Tingkatan yang terakhir, roh ditiup.
 
Disebutkan dalam Shaad – QS. 38 : 27 : “Faidzaa sawwaytuhuu wanafakhtu minruwhiy.”
artinya:
 
Maka tatkala Aku sempurnakan kejadian Adam, lalu Aku tiupkan roh daripada-Ku kepadanya
Pada ayat ini jelas diterangkan, setelah proses pembentukan tubuh kasar berujud, maka menyusullah proses “menghidupkan” yakni pemberian “roh’. Proses ini dinamakan “Vitalisasi”.
Dengan keterangan tersebut menurut Al-Qur’an terjadinya manusia Adam melalui proses tujuh tingkatan sedang badan halus atau ruhani adalah kejadian terakhir.

Dalam Al-Qur’an disebutkan pada Nuh – QS. 71:14 : “Waqod kholaqo kum athwaaraan”
artinya:
Dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu secara beringkat
Demikianlah Ilmu pengetahuan eksak hanya memiliki kemampuan meneliti dan melakukan analisa dalam pembentukan tubuh kasar, karenanya tubuh kasar tersusun dari materi yang dapat dilihat dan diraba pancaindera.

Dalam Al Isra – QS. 17: 85 : “Qulir Ruwhumin Amri Robbi”
artinya:
“Katakanlah Roh itu urusan Tuhan-Ku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.”
Selanjutnya dalam surat Al Hajj – QS. 22: 5 menyebutkan bahwa “…ketahuilah Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu. Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian dengan berangsur-angsur kamu sampailah kepada kedewasaan, dan dianatara kamu ada yang diwafatkan dan adapula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya samapi pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.”

Jadi, jika Adam melalui proses 7 tingkatan, maka kita dan turunannya melalui setetes mani. Dapat dijelaskan juga bahwa proses hidup dan singgah manusia melalui beberapa alam istimewa yaitu : alam rahim (alam kandungan ibu) – alam fana (dunia ini) – alam kubur (peristirahatan sementara) dan alam akhirat
(kampung terakhir)

Selanjutnya, untuk apa kita tinggal disini – dibumi?
Disebutkan dalam Adz-Dzaariyaat – QS. 51:56 : “Wamaa kholaktul jinna wal insa illaa liya’ buduwn.”
artinya:
“Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku.”
Para ulama muktabar telah menguraikan pengertian ibadah itu dengan panjang lebar yang mana perkataan ibadah ada kesempurnaannya dan mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak semata-mata terhadap kepada fardhu solat, puasa, zakat dan haji, melainkan tugas dan kewajiban kita di dunia ini adalah beribadah dan menghambakan diri kepada Allah S.W.T.

Untuk menepati kehendak ibadah dalam seluruh hidup ini, maka setiap perbuatan yang kita lakukan itu mestilah semata-mata karana Allah S.W.T., serta mengikut betul-betul arahan yang telah disampaikan oleh Rasulullah S.A.W..

Jika demikian segala makanan, minuman, pelajaran, pekerjaan, pendidikan jasmani, pernikahan dan mendidik anak adalah merupakan faktor-faktor yang membantu kita untuk taat kepada Allah S.W.T., serta kaffah atas perintah-Nya. Idealnya dapat kita maknakan rumah, sekolah, kantor, sawah ladang, orang tua, saudara, teman-teman adalah media untuk beribadah. Jadikan seluruh bumi Allah S.W.T. ini merupakan ‘masjid’, tempat kita menunaikan ibadah dalam kehidupan yang sebenarnya.
Terakhir, pertanyaannya adalah kemana setalah ini?

Setelah melewati alam-alam penghidupan (rahim – dunia – kubur) maka tujuan akhir kita adalah akhirat. Ini penting. Tidak tahu tujuan akhir, manusia akan bimbang akan pekerjaannya di bumi. Ada yang diwafatkan kemudian di bangkitkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya kemudian di mudakan untuk menuju kampung terakhir ini.

Abu Nu’aim meriwayatkan sebuah nasehat berharga dari Bilal ibn Sa’ad sebagai berikut, ” wahai manusia yang kekal dan abadi, anda tidak diciptakan untuk kefanaan dan kesementaraan, tetapi anda diciptakan untuk kekekalan dan keabadian. Pada hakikatnya, anda hanya mengalami perpindahan tempat dari satu
tempat ke tempat lain.”

Lalu, apakah kekekalan itu? Apa itu akhirat?
Manusia yang serius menjalankan kekhalifaannya di dunia akan mendapat kebahagian hakiki, sebaliknya yang ingkar dan kafir lagi munafik akan mendapatkan kesengsaraan. Seluruh organ tubuh manusia akan melaporkan tugas-tugasnya bersama “Majikannya”, dan pengadilan yang teradil akan memvonis surga atau neraka untuk manusia.

Mereka yang berat timbangan amal kebajikannya akan ke surga dan mereka yang berat amal keburukannya akan ke jahanam.

Untuk kehidupan di surga dan neraka akan penulis bahas tersendiri ditulisan yang lain, termasuk kehidupan di alam kubur.

Wallahu A’lam Bisshowab.
Demikian, semoga bermanfaat. Aamiin Yaa Rabbal `Alamin.
Billahi Alhidayatu wa taufiiqi.
Wassalaamu`Alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

http://adesuerani.wordpress.com/2009/06/12/mari-mencermati-hakikat-diri/
http://filsafat.kompasiana.com/2010/07/27/darimana-kita-berasal-206411.html

Article :

0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes