Tampilkan postingan dengan label Hakikat Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Manusia. Tampilkan semua postingan

Kehidupan Setelah Mati (Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Akhirat)

Kamis, 06 Juni 2013 | 0 comments


(Tahapan Perjalanan Manusia Menuju Hari Kebangkitan di Akhirat) Setelah manusia mati akan mengalami tahapan sbb :

1.Alam Barzakh
Para salaf bersepakat tentang kebenaran adzab Dan nikmat yang Ada di alam kubur (barzakh) . Nikmat tersebut merupakan nikmat yang hakiki, begitu pula adzabnya, bukan sekedar bayangan atau perasaan sebagaimana diklaim oleh kebanyakan ahli bid’ah. Pertanyaan (fitnah) kubur itu berlaku terhadap ruh Dan jasad manusia baik orang mukmin maupun kafir. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW selalu berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur. Rasulullah SAW menyebutkan sebagian dari pelaku maksiat yang akan mendapatkan adzab kubur, diantaranya mereka yang
A. Suka mengadu domba
B. Suka berbuat ghulul
C. Berbuat kebohongan
D. Membaca Al Qur’an tetapi tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Dan yang dilarang      dalam Al’Qur’an
E. Melakukan zina
F. Memakan riba
G. Belum membayar hutang setelah mati (orang yang berhutang akan tertahan tidak masuk surga karena hutangnya)
H. Tidak bersuci setelah buang air kecil, shg masih bernajis
Adapun yang dapat menyelamatkan seseorang dari siksa kubur adalah Shalat wajib, shaum, zakat, Dan perbuatan baik berupa kejujuran, menyambung
Silaturahim, segala perbuatan yang ma’ruf Dan berbuat baik kepada manusia , juga berlindung kepada Allah SWT dari adzab kubur.

2. Peniupan Sangkakala

Sangkakala adalah terompet yang ditiup oleh malaikat Israfil yang menunggu kapan diperintahkan Allah SWT. Tiupan yang pertama akan mengejutkan manusia Dan membinasakan mereka dengan kehendak Allah SWT, spt dijelaskan pada Al Qur’an :
“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langit Dan di bumi, kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT”( QS. Az Zumar :68 ).
Tiupan ini akan mengguncang seluruh alam dengan guncangan yang keras Dan hebat sehingga merusak seluruh susunan alam yang sempurna ini. Ia akan membuat gunung menjadi rata, bintang bertabrakan, matahari akan digulung, lalu hilanglah cahaya seluruh benda-benda di alam semesta. Setelah I TU keadaan alam semesta kembali seperti awal penciptaannya.
Allah SWT menggambarkan kedahsyatan saat kehancuran tersebut sebagaimana firman-Nya : ” Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan Hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada Hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya Dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras” (QS.Al Hajj:1-2).
Sedangkan pada tiupan sangkakala yang kedua adalah tiupan untuk membangkitkan seluruh manusia ; “Dan tiupan sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Rabb mereka.(QS. Yaa Siin : 51).
Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian ditiuplah sangkakala, dimana tidak seorangpun tersisa kecuali semuanya akan dibinasakan. Lalu Allah SWT menurunkan hujan seperti embun atau bayang-bayang, lalu tumbuhlah jasad manusia.Kemudian sangkakala yang kedua ditiup kembali, Dan manusia pun bermunculan (bangkit) Dan berdiri”.(HR. Muslim).

3.Hari Berbangkit
“Pada Hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakannya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu”. (QS. Al Mujadilah : 6).

4.Padang Mahsyar
“(Yaitu) pada Hari (ketika ) bumi diganti dengan bumi yang lain Dan (demikian pula) langit Dan mereka semuanya di padang Mahsyar berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.(QS. Ibrahim:48).
Hasr adalah pengumpulan seluruh mahluk pada Hari kiamat untuk dihisap Dan diambil keputusannaya. Lamanya di Padang Mahsyar adalah satu Hari yang berbanding 50.000 tahun di dunia. Allah berfirman:
“Malaikat-malaikat Dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.(QS. Al Maarij:4).
Karena amat lamanya Hari itu, manusia merasa hidup mereka di dunia ini hanya seperti satu jam saja.
Dan (ingatlah) akan Hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di Hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat saja di siang Hari. (QS.Yunus:45).
“Dan pada Hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat saja” (QS. ArRuum:55).
Adapun orang yang beriman merasakan lama pada Hari itu seperti waktu antara dhuhur Dan ashar saja. Subhanallah.
Keadaan orang kafir saat itu sebagaimana firman-Nya.”Orang kafir ingin seandainya IA dapat menebus dirinya dari adzab Hari itu dengan anak-anaknya, dengan istri serta saudaranya, Dan kaum familinya yang melindunginya ketika di dunia, Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya”.(QS.AlMa’arij:11-14).

5. Syafa’at
Syafaat ini khusus hanya untuk umat Muslim, dengan syarat tidak berbuat syirik besar yang menyebabkan kepada kekafiran. Adapun bagi orang musyrik, kafir Dan munafik, maka tidak Ada syafaat bagi mereka.
Syafaat ini diberikan Rasulullah SAW kepada umat Muslim (dengan izin dari Allah SWT).

6. Hisab
Pada tahap (fase) ini, Allah SWT menunjukkan amal-amal yang mereka perbuat dan ucapan yang mereka lontarkan, serta segala yang terjadi dalam kehidupan dunia baik berupa keimanan, keistiqomahan atau kekafiran.
Setiap manusia berlutut di atas lutut mereka. “Dan kamu lihat tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya . Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Jatsiah:28).
Umat yang pertama kali dihisab adalah umat Muhammad SAW, kita umat yang terakhir tapi yang pertama dihisab. Yang pertama kali dihisab dari hak-hak Allah pada seorang hamba adalah Shalatnya, sedang yang pertama kali diadili diantara manusia adalah urusan darah.
Allah SWT mengatakan kepada orang kafir : “Dan kamu tidak melakukan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu diwaktu kamu melakukannya”.(QS. Yunus:61). Seluruh anggota badan juga akan menjadi saksi.
Allah bertanya kepada hamba-Nya tentang apa yang telah ia kerjakan di dunia : “Maka demi Rabbmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang akan mereke kerjakan dahulu”.(Al Hijr:92-93).
Seorang hamba akan ditanya tentang hal : umurnya, masa mudanya, hartanya dan amalnya dan akan ditanya tentang nikmat yang ia nikmati.

7. Pembagian catatan amal
Pada detik-detik terakhir hari perhitungan , setiap hamba akan diberi kitab (amal) nya yang mencakup lembaran-lembaran yang lengkap tentang amalan yang telah ia kerjakan di dunia.
Al Kitab di sini merupakan lembaran-lembaran yang berisi catatan amal yang ditulis oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT.
Manusia yang baik amalnya selama di dunia, akan menerima catatan amal dari sebelah kanan. Sedangkan manusia yang jelek amalnya akan
menerima catatan amal dari belakang dan sebelah kiri, spt pada firman Allah berikut ini:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak : “celakalah aku”, dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”,(QS. Al Insyiqaq:8-12) .
“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaanku dariku” (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya”, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala”.(QS. Al Haqqah:25 31).

8. Mizan
Mizan adalah apa yang Allah letakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan hamba-hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah seorang dirugikan walau sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya.Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”.(QS. Al Anbiya:47)
Setelah tahapan Mizan ini, bagi yang kafir, dan mereka yang melakukan perbuatan syirik akan masuk neraka.
Sedangkan umat muslim lainnya, akan melalui tahap selanjutnya yaitu Telaga

9. Telaga
Umat Muhammad SAW akan mendatangi air pada telaga tsb. Barang siapa minum dari telaga tsb maka ia tidak akan haus selamanya. Setiap Nabi mempunyai telaga masing-masing. Telaga Rasulullah SAW lebih besar, lebih agung dan lebih luas dari yang lain, sebagaimana sabdanya :
Sesungguhnya setiap Nabi mempunyai telaga dan sesungguhnya mereka berlomba untuk mendapatkan lebih banyak pengikutnya di antara mereka dan sesungguhnya Nabi Muhammad mngharapkan agar menjadikan pengikutnya yang lebih banyak (HR. Bukhari Muslim).
Setelah Telaga, umat muslim akan ke tahap selanjutnya yaitu tahap Ujian Keimanan Seseorang. Perlu dicatat bahwa orang kafir dan orang yang berbuat syirik sudah masuk neraka (setelah tahap Mizan, seperti dijelaskan di atas).

10.Ujian Keimanan Seseorang
Selama di dunia, orang munafik terlihat seperti orang beriman karena mereka menampakkan keislamannya. Pada fase inilah kepalsuan iman mereka akan diketahui, diantaranya cahaya mereka redup. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana sujudnya orang mukmin. Saat digiring, orang-orang munafik ini merengek-rengek agar orang-orang mukmin menunggu dan menuntun jalannya.Karena saat itu benar-benar gelap dan tidak ada petunjuk kecuali cahaya yang ada pada tubuh mereka.
Allah SWT berfirman,”Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman:”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.Dikatakan (kepada mereka):”Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”.Lalu diadakan diantara mereka dinding yang mempunyai pintu.Di sebelah dalamnya ada rahmat da di sebelah luarnya dari situ ada siksa.(QS.Al hadid:13).
Setelah ini umat muslim yang lolos sampai tahap Ujian Keimanan Seseorang ini, akan melalui Shirat.

11. Shirat
Shirath adalah jmbatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam, untuk diseberangi orang-orang mukmin menuju Jannah (Surga).
Beberapa Hadits tentang Shirath
Sesungguhnya rasulullah SAW pernah ditanya tentang Shirath, maka beliau berkata :
Tempat menggelincirkan, di atasnya ada besi penyambar dan pengait dan tumbuhan berduri yang besar, ia mempunyai duri yang membahayakan seperti yang ada di Najd yang disebut pohon Sud’an.(HR. Muslim)
“Telah sampai kepadaku bahwasanya shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang”. (HR. Muslim)
“Ada yang melewati shirath laksana kejapan mata dan ada yang seperti kilat, ada yang seperti tiupan angina, ada yang terbang seperti burung dan ada yang menyerupai orang yang mengendarai kuda, ada yang selamat seratus persen, ada yang lecet-lecet dan ada juga yang ditenggelamkan di neraka jahannam”. (HR. Bukhari Muslim)
Yang paling pertama menyebarangi shirath adalah Nabi Muhammad SAW dan para pemimpin umat beliau.Beliau bersabda : “Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati shirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang bicara, kecuali Rasul Dan Rasul berdo’a ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.(HRBukhari).
Bagi umat muslim yang berhasil melalui shirath tersebut, akan ke tahap selanjutnya jembatan

12. Jembatan
Jembatan disini, bukan shirath yang letaknya di atas neraka jahannam. Jembatan ini dibentangkan setelah orang mukmin berhasil melewati shirath yang berada di atas neraka jahannam.
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang mukmin akan dibebaskan dari api neraka, lalu mereka diberhentikan di atas jembatan antara Jannah(surga) dan neraka, mereka akan saling diqhisash antara satu sama lainnya atas kezhaliman mereka di dunia.Setelah mereka bersih dan terbebas dari segalanya, barulah mereka diizinkan masuk Jannah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, seorang diantara kalian lebih mengenal tempat tinggalnya di jannah daripada tempat tinggalnya di dunia”.(HR. Bukhari).
Setelah melewati jembatan ini barulah orang mukmin masuk Surga.
Kesimpulan :
Setelah penjelasan di atas tinggal kita menunggu…, apa yang akan kita alami di hari akhir nanti…, tentunya sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini…. Semoga Alah SWT memberi kekuatan dan selalu membimbing kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya sehingga dapat mencapai surga-Nya dan dijauhkan dari siksa neraka-Mu ya Allah…….karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu ya Allah……
Sumber : 
1. Hidup Sesudah Mati edisi terjemah oleh Syaikh Jasim Muhammad Al Muthawwi
2. Al Yaum Al Akhir, Juz I,II,III oleh Dr. umar Sulaiman Al Asyqar
3. Syarah Lum’atul I’tiqad Al hadi Ila Sabilir Rasyad oleh Syaikh Utsaimin
4. Tahdzib Syarah Ath thahawiyah oleh Ibnu Abil Izz Al Hanafi
5. Tadzkirah, Imam Qurthubi
6. At Takhwif Minan Naar oleh Ibnu rajab Al Hambali
7. Hadiul Arwah Ila Biladil Afrah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah
8. Nihayatul Bidayah wan Nihayah oleh Al hafidz Ibnu Katsir
9. Ahwalun Naar oleh Muhammad Ali Al Kulaib.
 
Sumber : 
http://www.taushiyah-online.com http://dennyhendrata.wordpress.com/2007/10/06/kehidupan-setelah-mati-tahapan-perjalanan-manusia-menuju-akhirat/

Mari Mencermati Hakikat Diri Darimana Kita Berasal

| 0 comments



Bismillahir Rohmanir Rohiim
Assalamu’Alaykum Warohmatullahi Wabarakatuh

Saudaraku,

Alam semesta ini, isinya adalah materi dan energi. Pengamatan terakhir para ilmuwan bertambah satu, yakni informasi. Terwujudnya suatu benda disebabkan oleh karena adanya energi (tenaga atau daya). Tanpa energi mustahil ada materi, oleh karena itu energi lebih awal ada sebelum materi, sebab energi merupakann “roh” materi. Dalam setiap materi terkandung informasi. Informasi bukan materi meskipun tercetak pada materi. Informasi adalah hasil dari intelligence – kecerdasan.

Kecerdasan inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk bumi lainnya. Kecerdasan ini jugalah yang mengantarkan kesejahteraan menemukan kebahagian dan keselamatan. Namun perlu disadari untuk menemukan kebahagian itu manusia harus mengenal dirinya secara akrab. Tak kenal akan diri sendiri bisa membuat ketidaktahuan akan tugas dan fungsi yang esensial di bumi ini. Kabut gelap yang selama ini menutupi sosok jasmani dan rohani, akan bersinar terang tatkala jalan Shirathal Mustaqim kita tempuh melalui pencermatan akan hakikat diri.

Pertanyaan yang selalu menghadang manusia mengenai hakikat dirinya adalah darimana, mau kemana, apa maksud tujuan hidup, lalu mau kemana?

Tak kenal maka tak sayang. Mari.,cermati hakikat diri ini, agar kita bisa mengagumi kebesaran Illahi, mensyukuri nikmat dan karunia-Nya, serta memilih ajaran-Nya sebagai resep untuk menyelamatkan diri.

Sebelum kita telaah satu persatu, mari kita mulai dari titik mana kehidupan ini berawal.

Awalnya dunia ini (langit dan bumi) adalah satu, dan seluruh kehidupan ini berasal dari air (H2O beserta zat-zat mineral yang dikandungnya), seperti dalam Al-Anbiyaa’ – QS 21:30: “Awalam yarolladziyna kafaruww annaas samaawaati wal’ardha kaanataa rotkoon fafataqnaahumaa waja’ alnaa minal maa ikulla syai’injahiin, afalaa yu’minuwn” artinya:

“Tidakkah orang-orang kafir itu melihat bahwa langit-langit dan bumi disatukan kemudian mereka Kami pisahkan dan Kami menjadikan setiap yang hidup dengan air. Lalu apakah mereka tidak beriman?”

Data modern menyebutkan bahwa makhluk yang paling tua adalah tumbuh-tumbuhan, yaitu ganggang yang ditemukan sejak periode pra-Cambira, yaitu saat dikenali daratan yang paling tua. Dunia hewan muncul kemudian yang berasal dari laut. Al-Qur’an menyatakan bahwa unsur terpenting bagi seluruh kehidupan tumbuh-tumbuhan, seperti dalam Thaahaa – QS. 20:53: “…wa’andzala minassamaaishoo aan. Fa’akhroj’naa biha adzwajaam minnabaa tin syata” artinya:

“Dan Allah menurunkan air dari langit. Maka kami tumbuhkan (dari air itu) berpasang-pasang tumbuhan yang berbeda-beda.”

Kemudian Allah berfirman dalam An-Nur – QS. 24 : 45 “Wallahu kholaqo kulla daaabbatim mimma” artinya:

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air.”

Selanjutnya Allah menjadikan manusia melalui tujuh macam tingkatan:

Yang pertama
Disuratkan dalam As Sajadah – QS. 32 : 7
“Waba alkholqo minthiyn”
artinya:
“Dan Allah menjadikan manusia pada asalnya dari tanah”
Kata “thin” (tanah) pada ayat tersebut bermakna atom zat air atau Hidogenium.

Yang kedua
Disebutkan dalam Ar-Rahmaan – QS. 55 : 14:
“Kholaqol insaana min sholsholin kal fakhkhoor”
artinya:
“Allah menjadikan manusia dari tanah yang kering seperti tanah tembikir yang dibakar”
Kata “sholshol” (tanah kering atau setengah kering) pada ayat diatas adalah zat pembakar atau Oxygenium.

Yang ketiga
Disebutkan dengan kata “Fakhkhoor” pada ayat diatas adalah zat arang atau Carbonium.

Yang keempat
Disebutkan dalam Al-Hijir – QS. 15 : 28
“Waidza Qolarobbuka lilmalaaa ikati inni kholiqun basyaron min sholsholin min hamaa’ in masnuwm”
artinya
“Dan hendaklah engkau ketahui ketika Allah berfirman kepada malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia dari tanah dan Lumpur hitam yang berbentuk.”
Kata “Hamaa’in” (lumpur hitam) diartikan zat lemes atau Nitrogenium.

Yang kelima
Disebutkan dalam As shaffaat – QS. 37 : 11
“Innakholaknaahum mintiynin laadzib”
artinya:
“Sesungguhnya Allah menjadikan mereka (manusia) dari tanah liat”
Kata “laadzib” (tanah liat) adalah tanah yang sudah sempurna, yang telah diaduk, terdiri dari kandungan zat besi (Ferum), Yodium, Silicum dan Morgaan yang menjadi jaringan jasmani.

Yang keenam
Disebutkan dalam Ali Imran – QS. 3 : 59
“Adama kholaqohuu minturoob”
artinya:
Dia (Allah) menjadikan Adam dari tanah”
Kata “turoob” (tanah) adalah unsur-unsur atau zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamakan zat anorganis.

Zat ini baru terjadi setelah berlangsungnya persenyawaan antara zat air yang disebut “thin”, zat arang yang disebut “Fakhkhor” dengan zat pembakar “Sholshol”, zat lemes atau “Hamaa’in” , kemudian bersenyawa dengan zat besi, yodium kalium sillicium dan morgaan yang disebut “Laadzib”.

Dengan berlangsunganya proses tersebut maka terbentuklah suatu zat yang dinamakan “protein”. Inilah yang disebut “turoob” atau zat anorganis.
Diantara zat-zat anorganis yang dipandang penting adalah zat Kalium yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, utamanya pada zat otot. Zat ini memilik aktivitas dalam proses hayati yakni dalam pembentukan badan halus atau roh.

Dengan berlangsungnya “protenisasi” kemudian mengalami penggantian substansi, lalu lantaran elektron sinar kosmis yang menjelmakan pembentukan atau formasi “ujud” dinamakan “cause formalis”. Oleh karena sinar kosmis dapat merubah sifat zat yang berasal dari tanah maka terbentuklah badan kasar (jasmani) – berbentuk
manusia (adam), akan tetapi belum ada rohnya.

Tingkatan yang terakhir, roh ditiup.
 
Disebutkan dalam Shaad – QS. 38 : 27 : “Faidzaa sawwaytuhuu wanafakhtu minruwhiy.”
artinya:
 
Maka tatkala Aku sempurnakan kejadian Adam, lalu Aku tiupkan roh daripada-Ku kepadanya
Pada ayat ini jelas diterangkan, setelah proses pembentukan tubuh kasar berujud, maka menyusullah proses “menghidupkan” yakni pemberian “roh’. Proses ini dinamakan “Vitalisasi”.
Dengan keterangan tersebut menurut Al-Qur’an terjadinya manusia Adam melalui proses tujuh tingkatan sedang badan halus atau ruhani adalah kejadian terakhir.

Dalam Al-Qur’an disebutkan pada Nuh – QS. 71:14 : “Waqod kholaqo kum athwaaraan”
artinya:
Dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu secara beringkat
Demikianlah Ilmu pengetahuan eksak hanya memiliki kemampuan meneliti dan melakukan analisa dalam pembentukan tubuh kasar, karenanya tubuh kasar tersusun dari materi yang dapat dilihat dan diraba pancaindera.

Dalam Al Isra – QS. 17: 85 : “Qulir Ruwhumin Amri Robbi”
artinya:
“Katakanlah Roh itu urusan Tuhan-Ku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.”
Selanjutnya dalam surat Al Hajj – QS. 22: 5 menyebutkan bahwa “…ketahuilah Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu. Dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian dengan berangsur-angsur kamu sampailah kepada kedewasaan, dan dianatara kamu ada yang diwafatkan dan adapula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya samapi pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.”

Jadi, jika Adam melalui proses 7 tingkatan, maka kita dan turunannya melalui setetes mani. Dapat dijelaskan juga bahwa proses hidup dan singgah manusia melalui beberapa alam istimewa yaitu : alam rahim (alam kandungan ibu) – alam fana (dunia ini) – alam kubur (peristirahatan sementara) dan alam akhirat
(kampung terakhir)

Selanjutnya, untuk apa kita tinggal disini – dibumi?
Disebutkan dalam Adz-Dzaariyaat – QS. 51:56 : “Wamaa kholaktul jinna wal insa illaa liya’ buduwn.”
artinya:
“Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku.”
Para ulama muktabar telah menguraikan pengertian ibadah itu dengan panjang lebar yang mana perkataan ibadah ada kesempurnaannya dan mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak semata-mata terhadap kepada fardhu solat, puasa, zakat dan haji, melainkan tugas dan kewajiban kita di dunia ini adalah beribadah dan menghambakan diri kepada Allah S.W.T.

Untuk menepati kehendak ibadah dalam seluruh hidup ini, maka setiap perbuatan yang kita lakukan itu mestilah semata-mata karana Allah S.W.T., serta mengikut betul-betul arahan yang telah disampaikan oleh Rasulullah S.A.W..

Jika demikian segala makanan, minuman, pelajaran, pekerjaan, pendidikan jasmani, pernikahan dan mendidik anak adalah merupakan faktor-faktor yang membantu kita untuk taat kepada Allah S.W.T., serta kaffah atas perintah-Nya. Idealnya dapat kita maknakan rumah, sekolah, kantor, sawah ladang, orang tua, saudara, teman-teman adalah media untuk beribadah. Jadikan seluruh bumi Allah S.W.T. ini merupakan ‘masjid’, tempat kita menunaikan ibadah dalam kehidupan yang sebenarnya.
Terakhir, pertanyaannya adalah kemana setalah ini?

Setelah melewati alam-alam penghidupan (rahim – dunia – kubur) maka tujuan akhir kita adalah akhirat. Ini penting. Tidak tahu tujuan akhir, manusia akan bimbang akan pekerjaannya di bumi. Ada yang diwafatkan kemudian di bangkitkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya kemudian di mudakan untuk menuju kampung terakhir ini.

Abu Nu’aim meriwayatkan sebuah nasehat berharga dari Bilal ibn Sa’ad sebagai berikut, ” wahai manusia yang kekal dan abadi, anda tidak diciptakan untuk kefanaan dan kesementaraan, tetapi anda diciptakan untuk kekekalan dan keabadian. Pada hakikatnya, anda hanya mengalami perpindahan tempat dari satu
tempat ke tempat lain.”

Lalu, apakah kekekalan itu? Apa itu akhirat?
Manusia yang serius menjalankan kekhalifaannya di dunia akan mendapat kebahagian hakiki, sebaliknya yang ingkar dan kafir lagi munafik akan mendapatkan kesengsaraan. Seluruh organ tubuh manusia akan melaporkan tugas-tugasnya bersama “Majikannya”, dan pengadilan yang teradil akan memvonis surga atau neraka untuk manusia.

Mereka yang berat timbangan amal kebajikannya akan ke surga dan mereka yang berat amal keburukannya akan ke jahanam.

Untuk kehidupan di surga dan neraka akan penulis bahas tersendiri ditulisan yang lain, termasuk kehidupan di alam kubur.

Wallahu A’lam Bisshowab.
Demikian, semoga bermanfaat. Aamiin Yaa Rabbal `Alamin.
Billahi Alhidayatu wa taufiiqi.
Wassalaamu`Alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

http://adesuerani.wordpress.com/2009/06/12/mari-mencermati-hakikat-diri/
http://filsafat.kompasiana.com/2010/07/27/darimana-kita-berasal-206411.html

Mengapa Kita Hidup Di Dunia?

| 2 comments

 

Kehidupan dan kematian bagaikan dua sisi mata uang yang tak pernah bisa dipisahkan. Siapa pun dan apa pun yang hidup di dunia ini pasti akan merasakan kematian.

Betapapun seseorang itu tak menginginkannya, baik yang tua ataupun yang muda, yang kecil ataupun yang besar, si kaya maupun si miskin, yang kuat maupun yang lemah, kematian tetap akan menjemputnya, meskipun tidak ada yang tahu kapan dan di mana seseorang itu akan mati dan bagaimana pula akhir kematiannya. Allah ta’ala berfirman: 

 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185) 


HAKIKAT KEHIDUPAN DUNIA 

Pernahkah kita memperhatikan tentang hakikat kehidupan manusia di dunia ini. Sungguh dahulunya kita adalah sesuatu yang tidak ada dan tak berarti apa-apa, tak terlihat oleh mata dan tak teraba oleh indra. Dari ketiadaan inilah Allah Yang Maha menghidupkan dan Maha mematikan memulai penciptaan kita dari air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah, setelah itu menjadi sekerat daging, lalu malaikat –dengan izin Allah– meniupkan ruh ke dalamnya, Allah menyempurnakan penciptaan kita dalam tahapan-tahapan berikutnya.
 
Kemudian kita hidup di dunia ini, dari sejak bayi hingga masa kanak-kanak, kemudian menjadi remaja, dan akhirnya menjadi tua. Setelah itu hanyalah sisa-sisa umur, dimana kita menunggu saat-saat datangnya ajal menjemput kita. Ketika itulah, segala kehidupan dunia yang pernah kita rasakan akan sirna tanpa tersisa, dan berhenti tanpa bisa ditunda. 
 
Sejak saat itulah, kita menetap di dalam kubur yang gelap dan pengap, tanpa teman dan tanpa bantal. Saat itulah kita sangat amat berharap ada cahaya yang menerangi kita atau teman yang menemani, saat itulah hanya Allah ta’ala saja yang dapat menolong kita, dan menjaga kita dari kengerian alam kubur. 
 
Sudah menjadi keharusan bagi manusia untuk selalu ingat akan nikmat-nikmat Allah yang ia rasakan di dunia untuk senantiasa disyukuri dan dipergunakan dalam perkara-perkara yang diridai oleh-Nya.

HIDUP UNTUK BERIBADAH

Sesungguhnya diciptakannya jin dan manusia beserta seluruh apa yang ada di dunia ini bukanlah hanya sebuah kesia-siaan belaka, tetapi semuanya tercipta adalah untuk sebuah tujuan yang sangat mulia, yaitu beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman: 
 
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka hanya beribadah kepada-Ku (mentauhidkan-Ku).” (QS. adz-Dzariyat: 56) 
 
Oleh karena itulah, sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang menginginkan kesuksesan di akhirat kelak, untuk senantiasa beribadah kepadanya dengan sebenar-benarnya ibadah, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.
 
Banyak kita lihat dari kalangan kaum muslimin yang sangat sibuk dan bersungguh-sungguh mencari harta dunia mulai dari pagi sampai malam, tetapi ketika azan salat dikumandangkan, ia masih sibuk dalam urusannya tanpa memperhatikan salatnya, bahkan meremehkan dan meninggalkannya, seolah-olah mereka melihat bahwa salat itu adalah sesuatu yang tidak bermanfaat yang hanya mengganggu kehidupannya. Hal ini tentunya adalah sebuah kerugian yang amat besar baginya, yang akan ia tanggung kelak di hari kiamat. Pada hari dimana harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. 
 
Seseorang yang meninggalkan salat maka ia masuk dalam ancaman Allah subhanahu wa ta’ala berupa siksa api neraka yang menyala-nyala yang di dalamnya ia dibakar hidup-hidup dan disiksa. Allah ta’ala berfirman:  
 
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?”, mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. al-Muddatsir: 42-43) 
 
Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala juga menyuruh manusia agar berdoa kepada-Nya, sehingga Ia akan mengabulkannya, dan mengancam orang-orang yang sombong tidak mau berdoa dan beribadah kepadanya. Firman-Nya: 
 
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)
 

BEKAL MENUJU KEMATIAN

Setelah kita mengetahui akan beratnya perjalanan menuju negeri akhirat dan ancaman bagi orang yang tidak mau beribadah kepada Allah, maka kita harus menggunakan hidup kita untuk menyiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya guna menghadapi kehidupan setelah kematian, dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan kepada kita. Allah pun memerintahkan kita untuk berbekal dengan ketakwaan, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Allah ta’ala berfirman: 
 
“Dan berbekalah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah: 197) 
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kepada kita tentang amalan yang tak akan putus pahalanya meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
 
“Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. an-Nasa’i) 
 
Akhirnya semoga Allah melindungi kita dari kelalaian dalam beribadah kepada-Nya dan memudahkan kita dalam bertakwa kepada-Nya, menyelamatkan kita dari siksa kubur dan siksa api neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin. 
 
| Oleh :  Ari Wijayanto |
 
http://buletin-aliman.blogspot.com/2013/04/mengapa-kita-hidup-di-dunia.html    
 

Siapakah Diri Kita? (Ma’rifatul Insan)

| 0 comments

 
 
Kita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya.
 
Allah telah mengilhamkan dalam diri kita dua potensi: potensi baik (at-taqwa) dan potensi buruk (al-fujur). Kemudian Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih: beriman atau kufur, menjadi baik atau menjadi buruk. Setelah memilih, kita tentu saja harus menanggung segala konsekuensinya. Dan konsekuensi tersebut tidak lain adalah balasan baik berupa surga dan balasan buruk berupa neraka. Apapun yang akan kita dapatkan, baik surga ataupun neraka, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Karena itu jika ada seorang manusia yang nantinya masuk kedalam neraka, itu tidak lain adalah karena kezhalimannya kepada dirinya sendiri. Allah sedikit pun tidak berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Allah telah memberitahukan kepada kita melalui wahyu-Nya bahwa kita diciptakan untuk beribadah dan menyembah kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Seluruh kehidupan kita harus bernilai ibadah. Kita tidak hanya beribadah kepada Allah ketika kita sedang melakukan sholat dan berbagai ritual yang lainnya. Kita harus beribadah kepada Allah dalam semua sisi kehidupan. Caranya adalah dengan senantiasa menjadikan gerak hidup kita diridhai oleh Allah, yakni dengan mematuhi syariat-Nya yang telah Ia jelaskan dalam wahyu-Nya yang suci dan mulia.

Manusia telah menerima tawaran amanah dari Allah untuk memakmurkan alam semesta. Untuk itu, Allah telah menganugerahkan berbagai macam potensi kepada manusia untuk bisa memikul amanah yang amat berat tersebut. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk (fii ahsani taqwiim). Manusia tidak hanya dianugerahi jasad yang menawan, namun juga dianugerahi hati dan akal pikiran untuk bisa mencerap ilmu pengetahuan dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Disamping itu, Allah juga telah menundukkan alam semesta untuk manusia. Karenanya, kita bisa memanfaatkan segala hal yang ada di alam ini, baik itu benda mati, tumbuh-tumbuhan, binatang dan sebagainya.

Sebenarnya kita adalah makhluk yang lemah. Fisik kita tidaklah sekuat singa atau gajah. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa mencari cara untuk melindungi diri dari binatang-binatang buas semacam itu. Bahkan, kita pun bisa membinasakan hewan-hewan tersebut jika kita mau. Kita tidak diciptakan untuk bisa hidup dalam air. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa menciptakan kapal laut dan kapal selam untuk mengarungi perairan yang luas dan dalam. Kita tidak dikaruniai sayap untuk bisa terbang sebagaimana burung. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa menciptakan berbagai macam peralatan yang memungkinkan kita untuk terbang di angkasa, bahkan ke luar angkasa. Allah benar-benar telah memberikan anugerah yang besar kepada kita, manusia. Subhanallah, maha suci Allah!

Oleh karena itu, kita wajib mensyukuri segala yang telah Allah anugerahkan kepada diri kita, berupa jasad, hati dan akal kita. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa menjaga ketiga hal tersebut, secara seimbang. Jasad kita harus kita rawat dengan cara memberikan kebutuhan-kebutuhannya seperti makanan, minuman, kebutuhan biologis dan olahraga. Hati kita juga harus senantiasa kita jaga dengan cara membersihkannya dari penyakit-penyakit hati lalu menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Demikian pula akal kita juga harus kita pelihara dengan cara mengasah kecerdasannya dan menghiasinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga ketiga elemen diri kita tersebut secara seimbang, tanpa menelantarkan salah satu atau sebagiannya.

Yang seringkali dilakukan oleh manusia adalah hanya memperhatikan jasadnya, dan teledor dalam memperhatikan jiwanya. Padahal jiwa itulah yang membuat manusia menjadi unik dan istimewa. Dan jiwa itulah yang dilihat oleh Allah, bukan jasad. Banyak manusia tidak merasa ketika jiwanya telah sedemikian kotor. Ini tentu saja amat menyedihkan. Kita harus tahu bahwa jiwa kita sesungguhnya telah menyimpan berbagai sifat dasar yang kurang terpuji. Jika kita tidak berusaha untuk mengendalikan dan mengekang sifat-sifat tersebut, niscaya sifat-sifat itu akan terus tumbuh dan berkembang mengotori jiwa kita. Diantara sifat-sifat dasar itu adalah tergesa-gesa, suka berkeluh-kesah, suka lalai, suka melampauai batas, pelit, suka ingkar, suka membantah, zhalim, dan jahil. Tugas kita adalah mengubah sifat-sifat itu menjadi sifat-sifat yang terpuji. Hal ini tentu saja membutuhkan kesungguh-sungguhan (mujahadah).

Seberapa jauh kita bermujahadah dalam mengekang jiwa kita, akan menentukan kualitas jiwa kita. Jiwa yang tidak mengekang syahwatnya akan senantiasa terobsesi untuk melakukan berbagai macam keburukan (an-nafs al-ammarah bis-suu’). Dan jika jiwa tersebut terus mengumbar syahwatnya maka ia akan menjadi budak syahwat. Kualitas jiwa yang lebih tinggi dari ini adalah jiwa yang labil dan senantiasa bergejolak, antara kebaikan dan keburukan. Apabila ada keinginan amal shalih ia berpikir-pikir dulu. Pun bila terbersit kecenderungan maksiat ia juga pikir-pikir dulu. Lalu ketika ia terjatuh dalam sebuah kemaksiatan, ia pun akan menyesal dan mencaci maki dirinya atas kesalahannya tersebut. Dan untuk itulah ia disebut sebagai an-nafs al-lawwamah. Adapun kualitas jiwa yang tertinggi adalah ketika ia benar-benar tenang dalam kebaikan dan taqwa. Ia tidak tergoda oleh berbagai rayuan kemaksiatan. Inilah jiwa yang tenang dan tenteram (an-nafs al-muthmainnah).

Dengan ketinggian kualitas jiwanya, manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi disisi Allah. Pada level tertentu, ia bahkan dikatakan lebih tinggi kedudukannya daripada malaikat, karena taatnya malaikat bersifat taken for granted (tanpa pilihan) sementara taatnya manusia bersifat mukhayyar (atas pilihannya sendiri). Namun ketika seorang manusia memiliki kualitas jiwa yang rendah, hanya diperbudak oleh syahwatnya semata, ia pun tidak lagi berbeda dengan binatang, bahkan lebih rendah. Yang demikian itu karena ia hidup tanpa aturan seperti binatang padahal ia dikaruniai hati dan akal pikiran. Adapun hewan memang pantas hidup liar dan tanpa aturan karena memang tidak dikaruniai hati dan akal pikiran.

Pada akhirnya, diri kita sendirilah yang akan menentukan kita akan menjadi apa dan siapa, karena kita adalah makhluq yang mukhayyar, bebas untuk menentukan pilihan. Tetapi ingat, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya! 


Sumber : http://menaraislam.com/content/view/145/27/
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes