Siapakah Diri Kita? (Ma’rifatul Insan)

Kamis, 06 Juni 2013

 
 
Kita, manusia, adalah makhluq Allah yang unik dan istimewa. Kita tercipta dari dua unsur yang sungguh berbeda satu sama lain: tanah yang berasal dari bumi dan ruh yang berasal dari langit. Terciptanya kita dari tanah menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘bumi’ seperti makan, minum, dan kebutuhan biologis. Sedangkan unsur ruh yang ada dalam diri kita menjadikan kita sebagai makhluq yang membutuhkan hal-hal yang bersifat ‘langit’ seperti iman, ilmu, dan semacamnya.
 
Allah telah mengilhamkan dalam diri kita dua potensi: potensi baik (at-taqwa) dan potensi buruk (al-fujur). Kemudian Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih: beriman atau kufur, menjadi baik atau menjadi buruk. Setelah memilih, kita tentu saja harus menanggung segala konsekuensinya. Dan konsekuensi tersebut tidak lain adalah balasan baik berupa surga dan balasan buruk berupa neraka. Apapun yang akan kita dapatkan, baik surga ataupun neraka, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Karena itu jika ada seorang manusia yang nantinya masuk kedalam neraka, itu tidak lain adalah karena kezhalimannya kepada dirinya sendiri. Allah sedikit pun tidak berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Allah telah memberitahukan kepada kita melalui wahyu-Nya bahwa kita diciptakan untuk beribadah dan menyembah kepada-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Seluruh kehidupan kita harus bernilai ibadah. Kita tidak hanya beribadah kepada Allah ketika kita sedang melakukan sholat dan berbagai ritual yang lainnya. Kita harus beribadah kepada Allah dalam semua sisi kehidupan. Caranya adalah dengan senantiasa menjadikan gerak hidup kita diridhai oleh Allah, yakni dengan mematuhi syariat-Nya yang telah Ia jelaskan dalam wahyu-Nya yang suci dan mulia.

Manusia telah menerima tawaran amanah dari Allah untuk memakmurkan alam semesta. Untuk itu, Allah telah menganugerahkan berbagai macam potensi kepada manusia untuk bisa memikul amanah yang amat berat tersebut. Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk (fii ahsani taqwiim). Manusia tidak hanya dianugerahi jasad yang menawan, namun juga dianugerahi hati dan akal pikiran untuk bisa mencerap ilmu pengetahuan dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Disamping itu, Allah juga telah menundukkan alam semesta untuk manusia. Karenanya, kita bisa memanfaatkan segala hal yang ada di alam ini, baik itu benda mati, tumbuh-tumbuhan, binatang dan sebagainya.

Sebenarnya kita adalah makhluk yang lemah. Fisik kita tidaklah sekuat singa atau gajah. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa mencari cara untuk melindungi diri dari binatang-binatang buas semacam itu. Bahkan, kita pun bisa membinasakan hewan-hewan tersebut jika kita mau. Kita tidak diciptakan untuk bisa hidup dalam air. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa menciptakan kapal laut dan kapal selam untuk mengarungi perairan yang luas dan dalam. Kita tidak dikaruniai sayap untuk bisa terbang sebagaimana burung. Namun dengan akal yang Allah berikan, kita bisa menciptakan berbagai macam peralatan yang memungkinkan kita untuk terbang di angkasa, bahkan ke luar angkasa. Allah benar-benar telah memberikan anugerah yang besar kepada kita, manusia. Subhanallah, maha suci Allah!

Oleh karena itu, kita wajib mensyukuri segala yang telah Allah anugerahkan kepada diri kita, berupa jasad, hati dan akal kita. Salah satu caranya adalah dengan senantiasa menjaga ketiga hal tersebut, secara seimbang. Jasad kita harus kita rawat dengan cara memberikan kebutuhan-kebutuhannya seperti makanan, minuman, kebutuhan biologis dan olahraga. Hati kita juga harus senantiasa kita jaga dengan cara membersihkannya dari penyakit-penyakit hati lalu menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji. Demikian pula akal kita juga harus kita pelihara dengan cara mengasah kecerdasannya dan menghiasinya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita untuk menjaga ketiga elemen diri kita tersebut secara seimbang, tanpa menelantarkan salah satu atau sebagiannya.

Yang seringkali dilakukan oleh manusia adalah hanya memperhatikan jasadnya, dan teledor dalam memperhatikan jiwanya. Padahal jiwa itulah yang membuat manusia menjadi unik dan istimewa. Dan jiwa itulah yang dilihat oleh Allah, bukan jasad. Banyak manusia tidak merasa ketika jiwanya telah sedemikian kotor. Ini tentu saja amat menyedihkan. Kita harus tahu bahwa jiwa kita sesungguhnya telah menyimpan berbagai sifat dasar yang kurang terpuji. Jika kita tidak berusaha untuk mengendalikan dan mengekang sifat-sifat tersebut, niscaya sifat-sifat itu akan terus tumbuh dan berkembang mengotori jiwa kita. Diantara sifat-sifat dasar itu adalah tergesa-gesa, suka berkeluh-kesah, suka lalai, suka melampauai batas, pelit, suka ingkar, suka membantah, zhalim, dan jahil. Tugas kita adalah mengubah sifat-sifat itu menjadi sifat-sifat yang terpuji. Hal ini tentu saja membutuhkan kesungguh-sungguhan (mujahadah).

Seberapa jauh kita bermujahadah dalam mengekang jiwa kita, akan menentukan kualitas jiwa kita. Jiwa yang tidak mengekang syahwatnya akan senantiasa terobsesi untuk melakukan berbagai macam keburukan (an-nafs al-ammarah bis-suu’). Dan jika jiwa tersebut terus mengumbar syahwatnya maka ia akan menjadi budak syahwat. Kualitas jiwa yang lebih tinggi dari ini adalah jiwa yang labil dan senantiasa bergejolak, antara kebaikan dan keburukan. Apabila ada keinginan amal shalih ia berpikir-pikir dulu. Pun bila terbersit kecenderungan maksiat ia juga pikir-pikir dulu. Lalu ketika ia terjatuh dalam sebuah kemaksiatan, ia pun akan menyesal dan mencaci maki dirinya atas kesalahannya tersebut. Dan untuk itulah ia disebut sebagai an-nafs al-lawwamah. Adapun kualitas jiwa yang tertinggi adalah ketika ia benar-benar tenang dalam kebaikan dan taqwa. Ia tidak tergoda oleh berbagai rayuan kemaksiatan. Inilah jiwa yang tenang dan tenteram (an-nafs al-muthmainnah).

Dengan ketinggian kualitas jiwanya, manusia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi disisi Allah. Pada level tertentu, ia bahkan dikatakan lebih tinggi kedudukannya daripada malaikat, karena taatnya malaikat bersifat taken for granted (tanpa pilihan) sementara taatnya manusia bersifat mukhayyar (atas pilihannya sendiri). Namun ketika seorang manusia memiliki kualitas jiwa yang rendah, hanya diperbudak oleh syahwatnya semata, ia pun tidak lagi berbeda dengan binatang, bahkan lebih rendah. Yang demikian itu karena ia hidup tanpa aturan seperti binatang padahal ia dikaruniai hati dan akal pikiran. Adapun hewan memang pantas hidup liar dan tanpa aturan karena memang tidak dikaruniai hati dan akal pikiran.

Pada akhirnya, diri kita sendirilah yang akan menentukan kita akan menjadi apa dan siapa, karena kita adalah makhluq yang mukhayyar, bebas untuk menentukan pilihan. Tetapi ingat, setiap pilihan pasti ada konsekuensinya! 


Sumber : http://menaraislam.com/content/view/145/27/

Article :

0 comments:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes